Penguatan soliditas pemilih di wilayah basis dibutuhkan para capres-cawapres karena perubahan dukungan yang dinamis.

JAKARTA, KOMPAS — Ketiga pasangan calon presiden dan wakil presiden kembali menyapa pemilih di wilayah-wilayah yang potensial menjadi penyumbang suara. Daerah-daerah, itu antara lain, menjadi basis suara dari partai politik pengusung, basis suara di pilpres sebelumnya, ataupun memiliki kantong-kantong komunitas pendukung yang kuat.
Sejak Sabtu-Senin (23-25/12/2023), pasangan calon presiden dan wakil presiden nomor urut 1, Anies Rasyid Baswedan-Muhaimin Iskandar, memulai kampanye di Jawa Tengah. Muhaimin berkampanye di Kudus, Demak, Kabupaten Semarang, dan Kota Semarang, sedangkan Anies berkampanye di Brebes, Kabupaten Semarang, Kota Semarang, dan Rembang.
Anies-Muhaimin juga mendapatkan dukungan dari pengasuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri; Pondok Pesantren Al Falah Ploso, Kediri; Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Magelang; serta Pondok Pesantren Ma’hadul ’Ulum Asy-Syar’iyyah Rembang.
Adapun calon presiden nomor urut 3, Ganjar Pranowo, juga berkampanye di Jateng, khususnya di Solo Raya. Ganjar, antara lain, menghadiri apel siaga kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) di Surakarta, Minggu (24/12/2023). Selain itu, Mantan Gubernur Jawa Tengah itu juga menggelar pertemuan dengan tim pemenangan cabang, calon anggota legislatif, partai koalisi, dan sukarelawan se-Sragen, Senin (25/12/2023).
Sementara capres-cawapres nomor urut 2, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka, tidak melakukan kampanye dua hari terakhir. Seusai debat cawapres, Gibran berkampanye di DKI Jakarta dan Manado, Sabtu (23/12/2023). Sementara itu, Prabowo diagendakan kampanye di Aceh, Selasa (26/12/2023), salah satu wilayah yang memenangkannya di Pilpres 2019.
Dalam pidatonya di Sragen, Ganjar meminta pendukungnya untuk mempertahankan suara pemilih di Solo Raya untuk mendukung kandidat yang diusung PDI-P. Seluruh pengurus, kader, dan simpatisan diminta mengunci ”kandang banteng” bersama parpol koalisi. Sebab, wilayah Solo Raya juga menjadi daya tarik bagi kandidat lain.
”Kalau di Sragen, Solo Raya, insya Allah solid. Kami memastikan saja karena konsolidasinya sebelum saya datang, mereka sudah bekerja,” ujar Ganjar.
Pada Pemilu 2019, PDI-P menjadi parpol pemenang di Jateng dengan raihan 5,8 juta suara, disusul PKB yang menempati urutan kedua dengan raihan 2,7 juta suara.
Anies mengatakan, suara pemilih Jateng tidak hanya didominasi satu parpol. PKB yang menjadi salah satu parpol pengusung Anies-Muhaimin (AMIN) juga memiliki kekuatan yang tak kalah dengan PDI-P di Jateng karena berada di urutan kedua. Masyarakat Jateng juga dinilai mulai banyak yang menerima gagasan perubahan dari Anies-Muhaimin yang ditunjukkan melalui penerimaan dan antusiasme dari berbagai kelompok masyarakat kepada AMIN.
”Ketika tahun lalu kami mengenalkan konsep perubahan di tempat yang bukan basis kita (Jateng), ditolak, ditolak kuat, tidak tertarik. Sebulan ini, dahulu yang menolak, hari ini ramai-ramai menggunakan kaus AMIN,” ujarnya.
Anggota Dewan Pertimbangan Tim Nasional Anies-Muhaimin, Saiful Huda, menambahkan, Jateng termasuk wilayah yang menjadi fokus perhatian Anies-Muhaimin. Sebab, PKB memiliki basis pendukung yang cukup merata di sejumlah wilayah di Jateng, terutama di pantai utara dan pesantren-pesantren. PKB juga punya pengalaman cukup baik saat Pemilihan Gubernur Jateng 2018 kala Sudirman Said yang berpasangan dengan Ida Fauziah mampu meraih 41,22 persen suara.
“Kami menyapa kembali simpul-simpul yang menjadi basis suara saat Pilgub 2018 dan Pileg 2019 untuk memastikan dukungannya solid kepada Anies-Muhaimin,” ujarnya.
Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional Prabowo-Gibran, Juri Ardiantoro, mengatakan, semua daerah ingin dikunjungi karena memiliki prioritas yang sama. Namun, ada keterbatasan waktu kampanye yang singkat serta tugas negara yang masih dijalankan Prabowo-Gibran. ”Semua daerah penting untuk didatangi. Setelah Aceh, daerah lain juga menunggu giliran,” katanya.
Pastikan soliditas
Kepala Departemen Politik dan Perubahan Sosial Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Jakarta Arya Fernandes mengatakan, penguatan soliditas pemilih di wilayah basis dibutuhkan karena perubahan dukungan yang dinamis. Sebab, kampanye sudah berjalan, bahkan beberapa kandidat mulai berkampanye di basis wilayah lawan.
Selain itu, performa debat capres-cawapres juga memengaruhi perubahan pilihan. Dengan demikian, kandidat tidak boleh hanya terfokus untuk memperluas pendukung, tetapi juga harus memastikan ”kandang” dijaga ketat.
*Artikel ini telah tayang di laman Kompas.id dengan judul “Para Capres Kembali Sapa Pemilih di Wilayah Basis Dukungan”: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2023/12/25/para-capres-kembali-sapa-pemilih-di-wilayah-potensial

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.