Koalisi Indonsia Maju Gagal Terwujud di Pilkada Banten, Bagaimana Daerah Lain?

Setelah perbedaan dukungan parpol KIM di Pilkada Jakarta dan Jawa Barat, kini terjadi lagi di Pilkada Banten.Wajarkah?

Presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, bersenda gurau dengan para ketua parpol pendukung dan tim suksesnya di tengah Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Pemilu Tahun 2024 di Gedung Komisi Pemilihan Umum RI, Jakarta, Rabu (24/4/2024).
KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO: Presiden dan wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka, bersenda gurau dengan para ketua parpol pendukung dan tim suksesnya di tengah Rapat Pleno Terbuka Penetapan Pasangan Calon Presiden dan Wakil Presiden Terpilih Pemilu Tahun 2024 di Gedung Komisi Pemilihan Umum RI, Jakarta, Rabu (24/4/2024).

JAKARTA, KOMPAS — Perbedaan pandangan partai politik anggota Koalisi Indonesia Maju atau KIM yang mengusung pasangan terpilih Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka dinilai tak akan berhenti. Setelah perbedaan di Pilkada DKI Jakarta dan Jawa Barat, kini terjadi di Pilkada Banten. Selain di tingkat provinsi, perbedaan juga bakal lebih masif terjadi di ranah kabupaten/kota.

Namun, Partai Demokrat, yang juga pendukung KIM, melihat hal itu sebagai kewajaran karena tiap partai memiliki kader utama. Adapun Partai Gerindra, Partai Amanat Nasional (PAN), dan Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang juga anggota KIM lebih memilih mengusung kader Gerindra, Andra Soni dan anggota DPR Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Dimyati Natakusumah. Selain PKS, tiga partai lainnya itu berkoalisi dengan Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP).

Dengan begitu, Gerindra, PAN, dan PSI meninggalkan Partai Golkar sendirian di Pilkada Banten untuk mengusung Airin Rachmi Diany, mantan Wali Kota Tangerang Selatan. Padahal, Airin sempat menjadi Ketua Tim Kampanye Daerah Banten Prabowo-Gibran. Prabowo juga sempat mengatakan Airin cocok sebagai Gubernur Banten.

Menurut pengamat komunikasi politik dari Universitas Gadjah Mada, Nyarwi Ahmad, saat dihubungi dari Jakarta, Kamis (4/7/2024), perbedaan pandangan KIM soal kandidat pilkada tak akan berhenti di Pilkada Banten. Kemungkinan ”perpecahan” itu bakal berlanjut ke daerah lainnya, misalnya juga ke Jawa Barat dan Jawa Tengah.

”Perbedaan pandangan KIM soal kandidat pilkada tak akan berhenti di Pilkada Banten. Kemungkinan ‘perpecahan’ itu bakal berlanjut ke daerah lainnya, misalnya juga ke Jawa Barat dan Jawa Tengah. ”

https://cdn-assetd.kompas.id/mIGBYu_N9hyyxCaqTks5feCU7CM=/1024x622/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2023%2F08%2F31%2Fdda7ea63-b9f7-41e2-a5af-25220687d911_jpeg.jpg

Fungsionaris DPP Partai Golkar, Airin Rahmi Diany, turut menunggu kedatangan bakal calon presiden dari Koalisi Indonesia Maju Prabowo Subianto di kantor DPP Partai Golkar, Jakarta, Kamis (31/8/2023).

Pisah jalan

”Fakta yang terjadi, KIM berpisah jalan. Padahal, harapan para elite adalah KIM bisa bersama-sama saat pilkada. Di Jawa Barat terjadi indikasi yang sama, Ridwan Kamil didorong KIM untuk maju di DKI Jakarta,” ujarnya.

KIM yang mendorong mantan Gubernur Jawa Barat, Ridwan Kamil maju di Pilkada DKI Jakarta, kata Nyarwi, bertentangan dengan keinginan Partai Golkar. Kamil perlu berdarah-darah untuk menang di Jakarta. Padahal, di Jawa Barat Kamil memiliki keunggulan elektabilitas, akseptabilitas, hingga maju sebagai kandidat petahana.

Fakta yang terjadi, KIM berpisah jalan. Padahal, harapan para elite adalah KIM bisa bersama-sama saat pilkada. Di Jawa Barat terjadi indikasi yang sama, Ridwan Kamil didorong KIM untuk maju di DKI Jakarta.

Selain di Jawa, perbedaan pandangan KIM bakal terjadi di pilkada luar Jawa. Sebab, tiap daerah memang memiliki agenda hingga kelompok pemilih yang berbeda-beda, tidak bisa disamakan dengan kepentingan politik tingkat pusat. Kondisi lebih ekstrem bakal membelah KIM pada pilkada tingkat kabupaten/kota.

Faktor pemicu perbedaan pendapat antara KIM, menurut Nyarwi, lahir dari kompetisi Partai Golkar dan Partai Gerindra. Elemen lainnya adalah intervensi partai besar yang memiliki basis massa tertentu seperti PDI-P, PKS, Nasdem, hingga PKB.

”Pengurus partai tingkat daerah tentu mempertimbangkan kekuatan mereka lewat jumlah kursi di DPRD. Jumlah besar mendorong mereka berani berbeda. Elemen figur atau tokoh juga berpengaruh,” jelasnya.

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono, anggota KIM, berpandangan, pembentukan koalisi di Pilkada Banten masih sangat cair. Demokrat pun hingga kini masih mencari peluang kandidat dengan potensi menang terbesar.

https://cdn-assetd.kompas.id/LWgy0gVR1Cz5zzcUUN9S785u3TE=/1024x576/filters:watermark(https://cdn-content.kompas.id/umum/kompas_main_logo.png,-16p,-13p,0)/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F07%2F04%2Ffb6d559e-bfef-4024-8e71-2e7ee1db4ea5_jpg.jpg

Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono saat menyerahkan rekomendasi kepada sejumlah kandidat pilkada di Kantor DPP Partai Demokrat, Jakarta, Kamis (4/7/2024).

Dalam mempertimbangkan bergabung dengan koalisi di daerah, Partai Demokrat realistis melihat kemampuan kandidat. ”Tapi saya selalu menyampaikan kepada mereka kita harus benar-benar realistis, jangan hanya bermodal semangat, tetapi juga harus bermodalkan kesiapan-kesiapan lainnya,” katanya.

Kader utama

”Kami saling menghormati independensi setiap partai. Bisa aja kalau Demokrat sendiri (maju pilkada), ya, kenapa enggak? Kalau calon memang memungkinkan kenapa tidak? ”

Secara terpisah, Koordinator Juru Bicara Partai Demokrat Herzaky Mahendra Putra mengakui bahwa perbedaan pandangan dalam KIM sangat mungkin terjadi. Apalagi, KIM berisi parpol besar yang memiliki banyak kader utama atau unggulan masing-masing. Soliditas KIM juga diklaim tidak akan terganggu karena kandidat yang maju juga sama-sama dari parpol anggota KIM.

”Kami saling menghormati independensi setiap partai. Bisa aja kalau Demokrat sendiri (maju pilkada), ya, kenapa enggak? Kalau calon memang memungkinkan kenapa tidak?” jelasnya.

Di Banten, lanjut Herzaky, Partai Demokrat Tengah melobi agar kader bisa duduk sebagai calon peserta pilkada. Pilihannya adalah mantan Bupati Lebak, Iti Octavia Jayabaya dan mantan Wali Kota Tangerang, Arief Rachadiono Wismansyah. Dua orang itu disebut memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi kandidat Pilkada Banten.

Dalam proses itu, Demokrat berkomunikasi dengan Partai Golkar yang mengusung Airin. Menurut Herzaky, baik Iti maupun Arief terbuka kemungkinan untuk maju sebagai bakal calon gubernur, menggeser posisi Airin. Meskipun begitu, Demokrat dan Golkar tetap harus melihat faktor elektabilitas, peluang menang, hingga jumlah kursi DPRD.

 

*Artikel ini telah tayang di laman Kompas.id dengan judul “Koalisi Indonsia Maju Gagal Terwujud di Pilkada Banten, Bagaimana Daerah Lain”: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2024/07/04/perpecahan-kim-tak-akan-berhenti-di-pilkada-banten?open_from=Politik_&_Hukum_Page

About Author