Nasdem belum menentukan sikap koalisi di Pilkada Jatim dan sedang berdiskusi intensif dengan Partai Kebangkitan Bangsa.

JAKARTA, KOMPAS – Partai Nasdem menyebut sedang berdiskusi intensif dengan Partai Kebangkitan Bangsa sebelum menentukan arah dukungan di Pemilihan Kepala Daerah Jawa Timur. Pengamat politik menilai ada peluang munculnya calon alternatif jika PKB berkehendak melawan dominasi petahana Khofifah Indar Parawansa-Emil Elestianto Dardak.
Sekretaris Jenderal Partai Nasdem Hermawi Taslim saat dihubungi, Jumat (19/7/2024), menuturkan, partainya yang memiliki 10 kursi (8,3 persen) di DPRD Jawa Timur saat ini tengah berdiskusi intensif dengan PKB. Adapun PKB adalah partai yang meraih 27 kursi (22,5 persen) dari total 120 kursi di lembaga legislatif tingkat provinsi itu.
Tak sulit bagi Nasdem berkomunikasi dengan PKB karena sebelumnya dalam Pilpres 2024 mereka berada di kapal koalisi yang sama, yaitu Koalisi Perubahan. “Kami sedang diskusi serius dengan PKB. Bagi Nasdem, khusus untuk Jatim, semua kemungkinan masih terbuka karena masih dalam taraf diskusi,” ujar Hermawi.
Oleh karena tahapan pendaftaran calon pasangan kepala daerah dan wakil kepala daerah dijadwalkan pada 27-29 Agustus 2024, Nasdem pun memiliki tenggat kapan batas waktu hasil diskusi intensif dengan PKB tersebut. Mereka menargetkan hasil diskusi itu sudah selesai pada akhir Juli 2024 ini.
Jika kemudian PKB dan PDI-P betul-betul mampu menghadirkan koalisi dengan agenda kepentingan yang sama karena memiliki basis perbedaan kepentingan dengan KIM, (maka) bisa saja muncul alternatif koalisi dan calon.

Motor penggerak
Dihubungi terpisah, pengamat politik dari Universitas Paramadina Ahmad Khoirul Umam mengatakan, jika ingin menghadirkan calon alternatif penantang Khofifah-Emil, kekuatan motor penggerak terbesar ada di partai politik di luar Koalisi Indonesia Maju (KIM), terutama PKB dan PDI Perjuangan. Apalagi, berkaca dari hasil pemilu legislatif sebelumnya, PKB menjadi partai pemenang di Jatim secara akumulatif.
“Jika kemudian PKB dan PDI-P betul-betul mampu menghadirkan koalisi dengan agenda kepentingan yang sama karena memiliki basis perbedaan kepentingan dengan KIM, (maka) bisa saja muncul alternatif koalisi dan calon,” kata Ahmad.
Sejumlah nama calon yang muncul jika kedua parpol dapat berkoalisi adalah Kyai Marzuki Mustamar dan Tri Rismaharini. Calon ini dianggap kuat dan solid, walaupun tidak mudah situasinya.
Sebagai petahana, Khofifah-Emil dinilai sudah menguasai dukungan dari kalangan pondok pesantren, baik jaringan Islam moderat maupun tradisional. Jabatan Khofifah sebagai Ketua Umum Muslimat NU turut memengaruhi.
“Nasdem sifatnya tidak menjadi satu variabel yang cukup masif. Kalau melihat konteks persyaratan, PKB sendiri sudah mampu mengusung calon, dan akan lebih solid jika didukung koalisi partai lain,” ujar Ahmad.
Peluang untuk menghadirkan penantang Khofifah-Emil, kata Ahmad, justru paling terbuka dari PKB karena konstelasi politik saat ini. Sebagai partai pemenang pemilu Jatim, PKB telah menunjukkan soliditas mesin partai terbaik dibandingkan pemilu sebelumnya.
Di sisi lain, sikap Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar yang kerap menunjukkan sikap berlawanan dengan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga bisa menjadi motor penggerak perubahan itu.
“Cak Imin selama ini agak kurang klop dengan Bu Khofifah karena dia juga dianggap representasi dari PBNU. Cak Imin secara tegas menunjukkan sikap berseberangan dengan elite di PBNU. Jadi, ini akan jadi pertaruhan yang kompetitif, yang sengit,” tutur Ahmad.
Sebelumnya berdasarkan hasil survei Litbang Kompas, Khofifah Indar Parawansa menjadi tokoh yang paling difavoritkan menjadi calon gubernur di Pilkada Jatim pada November 2024. Elektabilitas Khofifah mencapai 26,8 persen dengan simulasi pertanyaan terbuka atau top of mind.
Pasangan petahana Khofifah-Emil juga sudah diusulkan dan mendapat rekomendasi dari tujuh partai politik peraih kursi DPRD Jatim yaitu Partai Golkar, Gerindra, PAN, Demokrat, PKS, PSI, PPP, dan parpol nonparlemen, yakni Perindo.
Adapun, elektabilitas di urutan kedua ditempati nama politisi PDI-P Tri Rismaharini atau Risma dengan elektabilitas mencapai 13,6 persen. Saat ini, Risma menjabat Menteri Sosial dan pernah menduduki kursi Wali Kota Surabaya selama dua periode. Risma juga masuk dalam bursa bakal calon gubernur yang diusulkan dari internal PDI-P.(Kompas.id, 19/7/2024).
*Artikel ini telah tayang di laman Kompas.id dengan judul “Nasdem-PKB Diskusi Intensif Pilkada Jatim, Pengamat: Peluang Calon Alternatif Terbuka”: https://www.kompas.id/baca/polhuk/2024/07/19/nasdem-pkb-diskusi-intensif-pilkada-jatim-pengamat-peluang-calon-alternatif-terbuka?open_from=Politik_&_Hukum_Page

Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.